Untuk kamu dan aku,
Jiwa-jiwa yang kakinya masih terus melangkah, yang tangan-tangannya masih tetap menengadah, serta hati-hatinya masih selalu melangitkan harap baik tanpa lelah.
Apa kabar, kamu?
Apa kabar kakimu yang tetap tegap
berdiri tegap-tegap di tengah gelap yang menyekap? Apa kabar bahu yang tetap
jadi pilar-pilar kuat? Apa kabar hatimu yang tetap lapang, meski satu dua
sudutnya tersayat? Apa kabar kamu, yang betah untai senyum, ditengah
hari-hari yang kadang kala jahat?
Semoga, kamu sedang disapa bahagia.
Semoga, kamu akan disapa bahaga. Semoga, semoga, kamu selalu disapa segala
bentuk bahagia–meski dalam wujud paling sederhana, meski dalam lebam-runtuhnya
dunia.
Semoga, semoga, kamu sedang, akan,
dan selalu dikuatkan. Meski di tengah sedu sedan tiap malam. Meski dengan
tangisan dalam doa diam-diam.
Serta, meski diantara buru-burunya
dunia yang hanya mau lihat senyummu.
Terima kasih, ya?
Terima kasih karena belum
memutuskan untuk berhenti, sejauh apapun yang sudah dilewati sampai hari ini,
serta seberat apapun sesak-sesak tak kasat yang bebani diri. Terima kasih
karena sudah selalu berteman baik dengan segala luka, gagal, sakit, hancur,
rusak, duka, dan air mata. Terima kasih karena sudah dekap setiap keluh
dengan utuh, alih-alih menguburnya jauh. Terima kasih karena sudah jadikan
mereka teman melangkah, juga karena sudah beri peluk hangat buat diri dalam
tiap arah langkah.
Kini, berbesar hatilah.
Kala arah rasanya kabur, pula
ketika mimpi bak akan lebur, kita masih manusia dengan banyak asa untuk
ditabur. Sepanjang masih beralur napas yang terhela, sepanjang tiap raga masih
punya debur berirama, kita masih manusia. Yang sedihnya bisa pergi, yang
runtuhnya bisa bangkit lagi. Yang tiap susah senangnya layak dihargai, yang
terbit tenggelamnya layak punya esok hari. Yang layak diberi rangkul penuh
kasih, juga yang seisinya layak disayangi. Maka jadilah tenang, jadilah
seutuhnya. Jadi hiduplah, berbesar hatilah.
Dengan sepenuh hati,
Untuk setiap hari,



0 komentar:
Posting Komentar