Malam ini bulan separuh, bulan yang sama saat kamu lahir. Aku ingin bilang itu tapi kamu masih belum muncul. Mungkin kepalamu sedang rumit, rutinitasmu semakin menyita waktu, atau berbicara denganku mulai terasa membosankan. Bagaimana, ya? dari dulu aku paling takut manusia berubah. Dan aku terus membuat batasan atas apa yang tidak bia kukendalikan, termasuk kabarmu. Ada yang belum kubilang, alasan aku mulai berhenti mencari tahu tentangmu. Bukan karena aku tidak suka, tapi kerena bagimu aku terlalu siapa untuk terluka. Jadi bagaimana kabarmu?
Rabu, 26 Juli 2023
Jumat, 03 Februari 2023
Untuk kamu dan aku,
Untuk kamu dan aku,
Jiwa-jiwa yang kakinya masih terus melangkah, yang tangan-tangannya masih tetap menengadah, serta hati-hatinya masih selalu melangitkan harap baik tanpa lelah.
Apa kabar, kamu?
Apa kabar kakimu yang tetap tegap
berdiri tegap-tegap di tengah gelap yang menyekap? Apa kabar bahu yang tetap
jadi pilar-pilar kuat? Apa kabar hatimu yang tetap lapang, meski satu dua
sudutnya tersayat? Apa kabar kamu, yang betah untai senyum, ditengah
hari-hari yang kadang kala jahat?
Semoga, kamu sedang disapa bahagia.
Semoga, kamu akan disapa bahaga. Semoga, semoga, kamu selalu disapa segala
bentuk bahagia–meski dalam wujud paling sederhana, meski dalam lebam-runtuhnya
dunia.
Semoga, semoga, kamu sedang, akan,
dan selalu dikuatkan. Meski di tengah sedu sedan tiap malam. Meski dengan
tangisan dalam doa diam-diam.
Serta, meski diantara buru-burunya
dunia yang hanya mau lihat senyummu.
Terima kasih, ya?
Terima kasih karena belum
memutuskan untuk berhenti, sejauh apapun yang sudah dilewati sampai hari ini,
serta seberat apapun sesak-sesak tak kasat yang bebani diri. Terima kasih
karena sudah selalu berteman baik dengan segala luka, gagal, sakit, hancur,
rusak, duka, dan air mata. Terima kasih karena sudah dekap setiap keluh
dengan utuh, alih-alih menguburnya jauh. Terima kasih karena sudah jadikan
mereka teman melangkah, juga karena sudah beri peluk hangat buat diri dalam
tiap arah langkah.
Kini, berbesar hatilah.
Kala arah rasanya kabur, pula
ketika mimpi bak akan lebur, kita masih manusia dengan banyak asa untuk
ditabur. Sepanjang masih beralur napas yang terhela, sepanjang tiap raga masih
punya debur berirama, kita masih manusia. Yang sedihnya bisa pergi, yang
runtuhnya bisa bangkit lagi. Yang tiap susah senangnya layak dihargai, yang
terbit tenggelamnya layak punya esok hari. Yang layak diberi rangkul penuh
kasih, juga yang seisinya layak disayangi. Maka jadilah tenang, jadilah
seutuhnya. Jadi hiduplah, berbesar hatilah.
Dengan sepenuh hati,
Untuk setiap hari,
Sabtu, 31 Juli 2021
Apologia Untuk Sebuah Nama
Kau hidup di jaman kau harus serba mencari. Mencari
jati diri, mencari hal yang bisa membahagiakan hati, mencari kesedihan, mencari
amanah, mencari banyak hal. Bahkan, aroma hujan yang tengah rintik pun kau
cari-cari. Ya, pethricor itu selalu
mengagumkan. Itulah kenapa indera penciumku selalu memuja.
Tuhan menjajikan kita
kebahagiaan, dan dunia
adalah tempatnya.Lebih tepatnya hatimu. Ya
semacam
kebahagian bersumber dari sana. Itulah
mengapa tuhan memberi kita tugas untuk
mencari. Mencoba menyusuri sendiri. Di setiap
sudut dunia ada bahagia milik kita. Hak
kita, untuk kita. Entah
dia
hidup atau mati, yang jelas hatimu harus siap menerima
karena membahagiakan
atau tidaknya hal itu bagimu, ialah hatimu yang mampu
merasakan.
Mari
kita ambil yang hidup sebagai ulasan. Jika kau mencari kesempurnaan tunggal, alam semesta
tidak akan menyajikan. Kesempurnaan adalah esa, milik tuhan. Tak
perlu membahas hal klise seperti ini, karena kau pasti tahu. Bahwa jika kesempurnaan diletakkan
pada manusia dan organ-organnya, tuhan dengan tega
mereka singkirkan. Karenanya, carilah….
Ia yang mampu memancarkanmu baik
di segala
kondisi. Dari segala sudut pandang. Carilah pancar
ronamu pada ia yang mampu
melihatmu dari sisi terendah. Carilah. Carilah ia yang
hidup tanpa meminta yang
tiada.
Carilah…
Ia yang mampu menghargai setiap
sudut
senyummu, bahkan sedihmu sekalipun. Carilah ia yang
bahkan bisa menerjemahkan
gulitamu. Mungkin, aral tak bisa ia binasakan. Namun,
ia selalu mempercayai
genggamanmu sebagai kekuatannya melawan. Hingga ia
mati, tak berdaya
diterbangkan debu.
Maka, carilah…
Ia yang bukan berjanji tidak akan
menyakitimu, namun temukan ia yang berani menjadi obat
ketika melukaimu tanpa
sadar ia lakukan. Kau dan dia sama-sama manusia. Tak
akan pernah luput dari
alpa, termasuk tentang bagaimana menorehkan luka.
Carilah…
Ia yang tak akan membiarkanmu
disentuh
tetesan air mata, bahkan tetesan hujan pun tak akan ia
biarkan menyentuh ujung
rambutmu walaupun kau sangat menyukainya. Temukan ia
sebagai pelindung hatimu.
Carilah…
Ia yang bisa menerjemahkan
amarahmu. Sekalut,
serumit, dan separah apapun amarah memuncak di
ubun-ubunmu, temukan ia yang
bisa meredakan dengan nilai sempurna. Karena kau tak
akan pernah tau, sefatal
apa lakumu ketika ubunmu dipenuhi api yang menggebu.
Carilah…
Ia yang tak hanya menebar bualan
tinggi di
depanmu. Namun, juga memberikan jaminan pada ayahmu
sebagaimana ia mampu
berjanji dihadapan Tuhan. Temukan ia yang tak hanya
mampu memintamu dihadapan
kedua orang tuamu, namun juga dihadapan yang satu.
Carilah..
Temukan ia yang selalu
menceritakanmu pada
dunia. Ia yang tak pernah kehabisan cara untuk
memperkenalkanmu pada sebutir
debu sekalipun. Membanggakanmu pada langit, hingga
menceritakan namamu pada
bintang dan membuatnya merasa iri saat ia katakan
bahwa kau adalah penyinar
hidupnya—bahwa ia tak pernah salah memilihmu sebagai
teman hidup yang
membantunya menggapai impian yang ia gantungkan
setinggi awan.
Carilah……
temukan……
Ia yang bukan hanya berjanji untuk
memenuhi
inginmu, namun ia yang selalu memintamu merapal kedua
telapak agar Tuhan
memampukan rezekinya untuk bisa selalu membahagiakanmu
dengan jerihnya. Payahnya,
peluhnya. Agar kau tau apa arti Tuhan, apa arti
memohon dan berharganya arti
sebuah pengabulan..
Carilah……
esok
hari……
dan ia yang
kucari,
sudah kutemukan..
Minggu, 01 November 2020
Matamu Yang Sepi
Aku tak mengenalmu persis, Ya aku tak mengenalmu. Tetapi pada satu linimasa waktu telah mempertemukan kita dan kita berpandangan disana. Jujur saja ada perasaan dahsyat yang entah apa namanya. Saling menabrak-nabrak dihati dan pikiranku.
Sejujurnya aku tak pernah sebahagia ini memandangi
seseorang, tak pernah sebetah ini. Aku ingin teriak tapi kau didepanku, aku
ingin bilang tapi aku malu. Kau melihatku ketika itu, menenggelamkanku dalam
matamu. Tak pernah aku merasa seperti ini.
Aku masih mengingat semuanya; mulutmu bicara, matamu bicara.
Aku hanyut dalam semuanya, tenggelam dalam kata-katamu. Tentu saja.
Segala yang ada pada dirimu, bagiku, mengalir menikam
hatiku, begitu saja. Begitu lembut, begitu lurus.
Sebuah pertemuan memang tak pernah direncanakan sebelumnya.
Setelah itu aku selalu merapalkan doa-doa agar jalur waktu mempertemukan kita
lagi. Aku ingin, lagi, melihat melihat mulutmu yang begitu indah mengalirkan
kata. Aku ingin, lagi, melihat mata seorang perempuan bicara, Aku ingin, lagi,
melihat tubuhmu bicara.
Aku ingin, lagi, lagi. Lagi
Jujur saja aku telah tenggelam dalam kata-katamu, tersesat
dalam matamu
Kemana lagi harus kulacak jalan pulang ketika jiwa telah terpacak
dimatamu?
Aku tak pernah tau. Aku tak pernah yakin
*
Kemudian kuputuskan merancang sebuah ruang tersendiri di
hati. Ruang yang kukhususkan untuk pertemuan-pertemuan bersamamu, dan imaji
yang kurangkai sendiri.
Aku bisa begitu lama disana, Menguncinya rapat-rapat agar tak ada seorang bisa masuk dan mengganggu pertemuan kita yang khusyuk. Aku hanya ingin mengulang klise itu, mengenang kata-kata dan matamu. Ah andai saja bisa kuakali waktu.
Senin, 06 April 2020
Matehatika, Matematika Perasaan
Kamis, 12 Oktober 2017
Kurasa Kita Bertemu Lagi di Alun-alun Kota Sore Itu
![]() |
| Kopiku terasa pahit tanpa senyummu sejak pertemuan sore itu |
Rabu, 16 September 2015
Ketika Bulan Tak Bernyanyi
Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Kita jilati awan dimalam rindu
Bunga-bunga tertunduk lesu
Sebab cahayamu tertinggal malam kemarin
Sehabis senyummu mengecup kembali
Pada setiap buih di lepas pantai
Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Mendadak aku ingin pulang
Sekedar untuk menjenguk malam musim gugur
dan bercerita
Tentang sepasang camar kehilangan sarang
Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Biarkan angin berhembus
Memburu gelagak cinta
Hingga ia kembali memandangmu
Dari sebuah jendela di laut utara
Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Masih ada bintang yang berpuisi
Maros, 30 Agustus 2015
Senin, 07 September 2015
Kenapa Milih Blog Personal ?
Selamat malam para blogger,beserta hadirmu yang membuat hatiku semakin geger (itu hati atau lemper ?).Langsung saja kali ini saya tidak akan membahas tentang pahitnya rindu. tapi sekarang Saya akan membahas hal-hal yang berbau “kenapa”. Mungkin dari kalian tidak ada yang bertanya Kenapa sih saya memilih blog personal bukan blog download,blog por** atau blog apalah,dalam postingan kali ini saya akan menjawabnya dengan cepat,tepat,dan tidak jelas.
5. Karena spongebob warnanya kuning,saya suka warna ijo :v
Jumat, 21 Agustus 2015
Ku kira Hujan
Ku kira kau hujan
Penuh dengan tetesan air yang melingkar
Yang selalu membasahi bumi
Dengan segala kata-kata cinta yang menjadi andalanmu
Ku kira kau mendung
Yang semestinya rindumu bertangkupan dengan awan
Namun mengapa keabu-abuanmu tak ada didalam angan ?
Ku kira kau aku
Namun mengapa aku tiada kau ?
Ku kira..
Kau..
Itu cinta









