Inilah sebuah perjalanan, nikmatilah semuanya. Jatuhlah dan sambutlah semua rasa

Rabu, 26 Juli 2023

Aku Mungkin Bukan Orang Yang Tepat Untuk Bertanya Apa Kabar


    Lama tanpa bertukar suara. Aku sebenarnya punya banyak cerita membosankan untuk kamu tanyakan yang akan aku tunda sampai kamu minta beberapa kali. Sudah kubilang, benar kan?, kalau ternyata aku sudah bergantung?. Semua hal menarik mengingatkanku tentang reaksimu yang tidak akan aku saksikan. Rak di toko buku yang sengaja aku lewati hanya karena aku pikir kamu akan suka. Pengamen jalanan yang membuatku duduk lebih lama hanya karena dia membawakan lagu kesukaanmu. Ada terlalu banyak kamu di dunia ini untuk satu kamu yang aku tidak tahu ada. Dunia ternyata serius tentang kembali menjadi misterius. Tentang bagaimana jalan yang tidak pernah kita lalui malah menjadi kenangan kuat yang berlalu. Aku bingung sbenarnya selama ini apa yang kulawan, perasaanku untuk membangun tembok atau ketakutanku untuk merutuhkan tembok itu  sendiri.

    Malam ini bulan separuh, bulan yang sama saat kamu lahir. Aku ingin bilang itu tapi kamu masih belum muncul. Mungkin kepalamu sedang rumit, rutinitasmu semakin menyita waktu, atau berbicara denganku mulai terasa membosankan. Bagaimana, ya? dari dulu aku paling takut manusia berubah. Dan aku terus membuat batasan atas apa yang tidak bia kukendalikan, termasuk kabarmu. Ada yang belum kubilang, alasan aku mulai berhenti mencari tahu tentangmu. Bukan karena aku tidak suka, tapi kerena bagimu aku terlalu siapa untuk terluka. Jadi bagaimana kabarmu?



Jumat, 03 Februari 2023

Untuk kamu dan aku,

Untuk kamu dan aku,       

         Jiwa-jiwa yang kakinya masih terus melangkah, yang tangan-tangannya masih tetap menengadah, serta hati-hatinya masih selalu melangitkan harap baik tanpa lelah.

Apa kabar, kamu?

        Apa kabar kakimu yang tetap tegap berdiri tegap-tegap di tengah gelap yang menyekap? Apa kabar bahu yang tetap jadi pilar-pilar kuat? Apa kabar hatimu yang tetap lapang, meski satu dua sudutnya tersayat? Apa kabar kamu, yang betah untai senyum, ditengah hari-hari yang kadang kala jahat?

        Semoga, kamu sedang disapa bahagia. Semoga, kamu akan disapa bahaga. Semoga, semoga, kamu selalu disapa segala bentuk bahagia–meski dalam wujud paling sederhana, meski dalam lebam-runtuhnya dunia.

        Semoga, semoga, kamu sedang, akan, dan selalu dikuatkan. Meski di tengah sedu sedan tiap malam. Meski dengan tangisan dalam doa diam-diam.

            Serta, meski diantara buru-burunya dunia yang hanya mau lihat senyummu.

Terima kasih, ya?

        Terima kasih karena belum memutuskan untuk berhenti, sejauh apapun yang sudah dilewati sampai hari ini, serta seberat apapun sesak-sesak tak kasat yang bebani diri. Terima kasih karena sudah selalu berteman baik dengan segala luka, gagal, sakit, hancur, rusak, duka, dan air mata. Terima kasih karena sudah dekap setiap keluh dengan utuh, alih-alih menguburnya jauh. Terima kasih karena sudah jadikan mereka teman melangkah, juga karena sudah beri peluk hangat buat diri dalam tiap arah langkah.

Kini, berbesar hatilah.

            Kala arah rasanya kabur, pula ketika mimpi bak akan lebur, kita masih manusia dengan banyak asa untuk ditabur. Sepanjang masih beralur napas yang terhela, sepanjang tiap raga masih punya debur berirama, kita masih manusia. Yang sedihnya bisa pergi, yang runtuhnya bisa bangkit lagi. Yang tiap susah senangnya layak dihargai, yang terbit tenggelamnya layak punya esok hari. Yang layak diberi rangkul penuh kasih, juga yang seisinya layak disayangi. Maka jadilah tenang, jadilah seutuhnya. Jadi hiduplah, berbesar hatilah.

Dengan sepenuh hati,

Untuk setiap hari,

Dil.  

Sabtu, 31 Juli 2021

Apologia Untuk Sebuah Nama


Kau hidup di jaman kau harus serba mencari. Mencari jati diri, mencari hal yang bisa membahagiakan hati, mencari kesedihan, mencari amanah, mencari banyak hal. Bahkan, aroma hujan yang tengah rintik pun kau cari-cari. Ya, pethricor itu selalu mengagumkan. Itulah kenapa indera penciumku selalu memuja.

Tuhan menjajikan kita kebahagiaan, dan dunia

adalah tempatnya.Lebih tepatnya hatimu. Ya semacam

kebahagian bersumber dari sana. Itulah mengapa tuhan memberi kita tugas untuk

mencari. Mencoba menyusuri sendiri. Di setiap

sudut dunia ada bahagia milik kita. Hak kita, untuk kita. Entah dia

hidup atau mati, yang jelas hatimu harus siap menerima karena membahagiakan

atau tidaknya hal itu bagimu, ialah hatimu yang mampu merasakan.

 

Mari kita ambil yang hidup sebagai ulasan. Jika kau mencari kesempurnaan tunggal, alam semesta tidak akan menyajikan. Kesempurnaan adalah esa, milik tuhan. Tak perlu membahas hal klise seperti ini, karena kau pasti tahu. Bahwa jika kesempurnaan diletakkan pada manusia dan organ-organnya, tuhan dengan tega

mereka singkirkan. Karenanya, carilah….

 

Ia yang mampu memancarkanmu baik di segala

kondisi. Dari segala sudut pandang. Carilah pancar ronamu pada ia yang mampu

melihatmu dari sisi terendah. Carilah. Carilah ia yang hidup tanpa meminta yang

tiada.

 

 

Carilah…

 

Ia yang mampu menghargai setiap sudut

senyummu, bahkan sedihmu sekalipun. Carilah ia yang bahkan bisa menerjemahkan

gulitamu. Mungkin, aral tak bisa ia binasakan. Namun, ia selalu mempercayai

genggamanmu sebagai kekuatannya melawan. Hingga ia mati, tak berdaya

diterbangkan debu.

 

Maka, carilah…

 

Ia yang bukan berjanji tidak akan

menyakitimu, namun temukan ia yang berani menjadi obat ketika melukaimu tanpa

sadar ia lakukan. Kau dan dia sama-sama manusia. Tak akan pernah luput dari

alpa, termasuk tentang bagaimana menorehkan luka.

 

Carilah…

 

Ia yang tak akan membiarkanmu disentuh

tetesan air mata, bahkan tetesan hujan pun tak akan ia biarkan menyentuh ujung

rambutmu walaupun kau sangat menyukainya. Temukan ia sebagai pelindung hatimu.

 

Carilah…

 

Ia yang bisa menerjemahkan amarahmu. Sekalut,

serumit, dan separah apapun amarah memuncak di ubun-ubunmu, temukan ia yang

bisa meredakan dengan nilai sempurna. Karena kau tak akan pernah tau, sefatal

apa lakumu ketika ubunmu dipenuhi api yang menggebu.

 

Carilah…

 

Ia yang tak hanya menebar bualan tinggi di

depanmu. Namun, juga memberikan jaminan pada ayahmu sebagaimana ia mampu

berjanji dihadapan Tuhan. Temukan ia yang tak hanya mampu memintamu dihadapan

kedua orang tuamu, namun juga dihadapan yang satu.

 

Carilah..

 

Temukan ia yang selalu menceritakanmu pada

dunia. Ia yang tak pernah kehabisan cara untuk memperkenalkanmu pada sebutir

debu sekalipun. Membanggakanmu pada langit, hingga menceritakan namamu pada

bintang dan membuatnya merasa iri saat ia katakan bahwa kau adalah penyinar

hidupnya—bahwa ia tak pernah salah memilihmu sebagai teman hidup yang

membantunya menggapai impian yang ia gantungkan setinggi awan.

 

Carilah……

temukan……

 

Ia yang bukan hanya berjanji untuk memenuhi

inginmu, namun ia yang selalu memintamu merapal kedua telapak agar Tuhan

memampukan rezekinya untuk bisa selalu membahagiakanmu dengan jerihnya. Payahnya,

peluhnya. Agar kau tau apa arti Tuhan, apa arti memohon dan berharganya arti

sebuah pengabulan..

 

Carilah……

esok hari……

dan ia yang kucari,

sudah kutemukan..


 



 


Minggu, 01 November 2020

Matamu Yang Sepi

Aku tak mengenalmu persis, Ya aku tak mengenalmu. Tetapi pada satu linimasa waktu telah mempertemukan kita dan kita berpandangan disana. Jujur saja ada perasaan dahsyat yang entah apa namanya. Saling menabrak-nabrak dihati dan pikiranku.

Sejujurnya aku tak pernah sebahagia ini memandangi seseorang, tak pernah sebetah ini. Aku ingin teriak tapi kau didepanku, aku ingin bilang tapi aku malu. Kau melihatku ketika itu, menenggelamkanku dalam matamu. Tak pernah aku merasa seperti ini.

Aku masih mengingat semuanya; mulutmu bicara, matamu bicara. Aku hanyut dalam semuanya, tenggelam dalam kata-katamu. Tentu saja.

Segala yang ada pada dirimu, bagiku, mengalir menikam hatiku, begitu saja. Begitu lembut, begitu lurus.

Sebuah pertemuan memang tak pernah direncanakan sebelumnya. Setelah itu aku selalu merapalkan doa-doa agar jalur waktu mempertemukan kita lagi. Aku ingin, lagi, melihat melihat mulutmu yang begitu indah mengalirkan kata. Aku ingin, lagi, melihat mata seorang perempuan bicara, Aku ingin, lagi, melihat tubuhmu bicara.

Aku ingin, lagi, lagi. Lagi

Jujur saja aku telah tenggelam dalam kata-katamu, tersesat dalam matamu

Kemana lagi harus kulacak jalan pulang ketika jiwa telah terpacak dimatamu?

Aku tak pernah tau. Aku tak pernah yakin

*

Kemudian kuputuskan merancang sebuah ruang tersendiri di hati. Ruang yang kukhususkan untuk pertemuan-pertemuan bersamamu, dan imaji yang kurangkai sendiri.

Aku bisa begitu lama disana, Menguncinya rapat-rapat agar tak ada seorang bisa masuk dan mengganggu pertemuan kita yang khusyuk. Aku hanya ingin mengulang klise itu, mengenang kata-kata dan matamu. Ah andai saja bisa kuakali waktu.


Senin, 06 April 2020

Matehatika, Matematika Perasaan

Tahukah kamu bahwa perasaan tidaklah sesederhana penjumlahan satu ditambah satu sama dengan dua?. Ia selalu memiliki variabel bebas yang mempengaruhi setiap perhitungannya. Tapi apakah perasaan bisa dihitung?. Seperti ketika sebuah bilangan asli ketika dibagi dengan nol hasilnya akan tak terdefinisikan. Begitupun perasaan, ia harus dibagi dengan sesuatu yang ada untuk bisa mendefinisikan wujudnya. Sangat mudah, tapi kali ini yang dibagi bukan angka.
Pernahkah kamu berfikir bahwa kita cukup egois untuk menyimpan perasaan sendiri, menikmatinya dan tidak pernah berbagi, sehingga tidak pernah diutarakan. Egoiskah seseorang yang hanya mencintai dalam hati?. Mungkin saja hanya karna waktu yang belum memberikan kesempatan, atau juga begitu banyak perhitungan. Ya cinta harus dihitung seperti matematika, juga harus dipertimbangkan. Pernahkah mencintai seseorang yang bukan hak kita untuk mencintainya, seperti tak bisa memiliki?. Mungkin rasanya seperti perih yang menjalar ke urat nadi lalu memecahkan kantung darah yang ada. Mungkin sebab itulah cinta harus dihitung, cinta bukanlah perasaan yang hadir tanpa alasan, juga bukan surga yang menjanjikan kebahagian abadi, cinta  itu sebuah perjanjian, bagaimana menghitung perjanjian tersebut dalam dimensi waktu yang lama?. Mampukah hati kita menampung beban perasaan cinta yang berat itu? lalu menjadikannya ringan seketika. Cinta juga bukanlah sekadar perasaan yang tidak mudah diperhitungkan, cinta adalah tanggung jawab. Tanggung jawab memperhitungkan sanggupkah kita membahagiakannya? dengan apa? bagaimana? seperti apa?, semua ada caranya, meskipun setiap cara pasti berbeda, pun begitu dengan hasil yang didapatkan.
Dimanakah posisi ketulusan? Ia akan hadir setelah semua perhitungan terselesaikan, Ketika semua telah terperjuangkan, menjadikannya mapan untuk menopang, dan kokoh untuk ditinggali. Bukan sekadar gubuk tapi rumah yang indah. Begitulah cinta bekerja. Ia akan membawamu masuk ke sebuah rumah, dimana kamu bisa menutupnya dari dalam, memberinya pagar, menghias dindingnya, dan meneranginya dengan doa yang dilangitkan.

Begitulah aku mencintaimu, ku jaga dengan keyakinan, ku rawat dengan doa.




Kamis, 12 Oktober 2017

Kurasa Kita Bertemu Lagi di Alun-alun Kota Sore Itu

Sore yang ranum,matahari dengan sisa sisa cahanya hari itu serta pikiranku yang semakin penuh tentangmu. Atas nama hati yang telah kau curi sejak pertama kali senyummu melintas, namamu terus saja berlarian kesana kemari di ruang penasaranku. Entah kenapa begitu hebatnya kau menghadiahkan mendung kepada hujan dan kau beri pelangi setelahnya lalu menghilang,berbekas.
Kurasa kita bertemu lagi di alun-alun kota sore itu. Selalu saja kuhitung setiap langkahmu kehadapku. Langkah pertama kau begitu cantik walau tanpa gelang,cincin dan anting-anting. Langkah kedua kau masih saja cantik meski kau tak tahu itu. Dan langkah –langkah selanjutnya masih tetap begitu,ah..kau selalu saja seperti itu. Semakin dekat dan semakin aku merasa ada tremor dakam batinku. Sampai kau tiba dihadapanku
“Hey..” katamu sembari menyebut namaku.
Terasa seperti ditampar halus,kemudian kau lepaskan senyummu dan aku terjebak di alam nyatamu. Ya..senyum yang sama saat pertama kali kulihat pagi hari itu,yang selalu ku lamunkan dan selalu ingin ku jaga tetap merekah.
Seperti pertemuan yang lalu-lalu,masih tetap saja kaku kutanya kabarmu,kuliahmu sampai judul drakor yang baru saja kau tonton. Masih saja kau jawab dengan singkat dengan nada bicaramu yang khas serta lesung pipit di wajahmu. Itu saja kemudian membisu diantara percakapan orang lain atau mungkin kau berkata padaku tapi nalarku saja yang belum mampu menangkapnya. Entahlah..
Kemudian kau beranjak dari kursi dan pulang dengan mengucap kata sampai ketemu lagi. Aku terdiam mematung mendengarnya dan seketika aku merasa dibangunkan dari lamunan indahku tentangmu.
Hari-hari selanjutnya kuhabiskan di alun-alun kota itu sembari menyeruput kopi yang kembali terasa pahit tanpa senyummu setelah temu sore itu. Kutatap terus meja yang kemarin kau duduki,berharap aku bisa melihat aku dan kau duduk berdua berhadapan,aku meminum kopiku dan kau menuangkan senyumanmu dihadapanku. Jika saja itu benar adanya mungkin gula tidak perlu ada lagi di dunia ini.

Kopiku terasa pahit tanpa senyummu sejak pertemuan sore itu
 Kurasa kita bertemu lagi di alun-alun kota sore itu..                                                                                     

*fad*


Rabu, 16 September 2015

Ketika Bulan Tak Bernyanyi



Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Kita jilati awan dimalam rindu
Bunga-bunga tertunduk lesu
Sebab cahayamu tertinggal malam kemarin
Sehabis senyummu mengecup kembali
Pada setiap buih di lepas pantai

Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Mendadak aku ingin pulang
Sekedar untuk menjenguk malam musim gugur
dan bercerita
Tentang sepasang camar kehilangan sarang

Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Biarkan angin berhembus
Memburu gelagak cinta
Hingga ia kembali memandangmu
Dari sebuah jendela di laut utara

Ketika bulan tak lagi bernyanyi
Masih ada bintang yang berpuisi



 Maros, 30 Agustus 2015

Senin, 07 September 2015

Kenapa Milih Blog Personal ?



Selamat malam para blogger,beserta hadirmu yang membuat hatiku semakin geger (itu hati atau lemper ?).Langsung saja kali ini saya tidak akan membahas tentang pahitnya rindu. tapi sekarang Saya akan membahas hal-hal yang berbau “kenapa”. Mungkin dari kalian tidak ada yang bertanya Kenapa sih saya memilih blog personal  bukan blog download,blog por** atau blog apalah,dalam postingan kali ini saya akan menjawabnya dengan cepat,tepat,dan tidak jelas.

Sebenarnya ada beberapa alasan saya memilih blog personal,yang saya akan jabarkan satu persatu

1.Karena lagi hobi nulis kayak nulis puisi makanya lebih milih jadi personal.
2.Karena saya hanya tahu menulis jadi nggak bisa buat blog jual beli, blog tentang makan, blog fotografi dan blog-blog lainnya.
3.Awalnya ngeblog cuma ikut-ikutan teman,tapi setelah beberapa kali nge-post ternyata               nge-blog juga asyik dan akhirnya ketagihan.
4.Supaya bisa terkenal,bisa masuk tipi.Bisa diundang di acara-acara kayak “Reporta** Investigasi” :v
5. Karena spongebob warnanya kuning,saya suka warna ijo  :v


Alasan saya milih gabung ke Blogger Energy.

1. Ingin mengenal para blogger lainnya.Terutama blogger cewek,kali aja bisa dapat kenalan          cewek sesama blogger.
2.Ingin mempublikasikan blog ini ke blogger lainnya.(Ya siapa tau setelah gabung blog ini bisa    jadi  ramai pembaca.)

Itu saja tadi alasan-alasan saya.Sebenarnya masih banyak yang mau saya sampaikan,tapi karena sudah tidak ada lagi yang mau saya sampaikan jadinya tidak ada lagi yang mau saya sampaikan.
Mohon maaf jika ada pembaca yang jadi gila setelah membaca postingan saya ini,karena sebenarnya niat saya tidak ingin menjadikan anda gila tapi saya hanya ingin menjadikan anda gila(woy apaan tuu) .Dan semoga saya bisa diterima gabung di blogger energy.Terima kasih dan berbahagialah dalam derai air mata.


Photobucket







               

Jumat, 21 Agustus 2015

Ku kira Hujan


Ku kira kau hujan
Penuh dengan tetesan air yang melingkar
Yang selalu membasahi bumi
Dengan segala kata-kata cinta yang menjadi andalanmu

Ku kira kau mendung
Yang semestinya rindumu bertangkupan dengan awan
Namun mengapa keabu-abuanmu tak ada didalam angan ?

Ku kira kau aku
Namun mengapa aku tiada kau ?

Ku kira..
Kau..
Itu cinta


Maros,21 Agustus 2015

Senin, 03 Agustus 2015

Titrasi Disosiasi




Juli tahun lalu,aku teringat pertemuan suatu perempuan. Bintang yang berkilau yang menggantung di langit biru. Dengan pita merah jambu yang senantiasa menemani kepalanya,Dia berjalan menyusuri labirin hingga membuatku terlena karena terpesona.Secuil alasanlah yang mempertemukan kita dalam suatu ruangan. Sedikit perkenalan dan kemudian kau jajal pertanyaan penuh mengapa. Terutama tentang kekosongan masing-masing, mungkin.

Aku terhimpit dalam nostalgia yang abadi. Secangkir kopi buatan malam  menggambarkan kita,aku pahitnya dan kau manisnya.Meneguknya hingga puas,dan kau sisakan ampas; tak berbekas.

Aku selalu ingin bersahabat dengan masa lalu,duduk berdua membahas ketidakrelaan yang tidak nyata yang mungkin paling nyata yang pernah aku nyatakan.

Hampir setahun kita saling membisu dalam keramaian,mengumpul ragu untuk saling menjauhi,dan bertegur harap dalam kesendirian. Di kepalaku wajahmu telah terukir dan menjadi prasasti,merusaknya hanya akan menghancurkan mimpi.Walau sebatas angan namun itu satu-satunya cara merangkulmu dari kejauhan.Sebab memilikimu aku takkan bisa.

Menenggelamkan rasa

Perih terasah

Hingga terkapar menahan sesak merata


Padahal aku ingin menjamahmu seperti langit malam. Bertaburan bintang di atasnya,tetap kaulah satu-satunya. Kisah kita tinggallah bualan. Kebohongan paling nyata untuk dikisahkan. Aku benar-benar ingin bersahabat dengan kenangan,seperti bubuk kopi yang tak sadar telah menyatu dengan air. Aroma yang menenangkan degub jantung akan amarah yang menggelora.

Bahagialah seisi harimu,kelak aku akan mendatangimu mengetuk pintu yang tertutup. Satu hal yang aku takutkan,bahwa kelak kau tahu siapa yang paling mencintaimu. Sayatan terkeji akan merobekmu,luka terperih akan membawamu dalam tangisan dan menyadarkanmu dari kenyataan yang tak terelakkan.

Terima kasih atas hadirmu yang telah menyinari langit keemasan

Aku siap tertawa di atas penyesalan dari cinta yang telah mati.


Author

Foto saya
Tangerang Selatan, Indonesia

Copyright © Perjalanan Rasa | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com