Inilah sebuah perjalanan, nikmatilah semuanya. Jatuhlah dan sambutlah semua rasa

Jumat, 21 Agustus 2015

Ku kira Hujan


Ku kira kau hujan
Penuh dengan tetesan air yang melingkar
Yang selalu membasahi bumi
Dengan segala kata-kata cinta yang menjadi andalanmu

Ku kira kau mendung
Yang semestinya rindumu bertangkupan dengan awan
Namun mengapa keabu-abuanmu tak ada didalam angan ?

Ku kira kau aku
Namun mengapa aku tiada kau ?

Ku kira..
Kau..
Itu cinta


Maros,21 Agustus 2015

Senin, 03 Agustus 2015

Titrasi Disosiasi




Juli tahun lalu,aku teringat pertemuan suatu perempuan. Bintang yang berkilau yang menggantung di langit biru. Dengan pita merah jambu yang senantiasa menemani kepalanya,Dia berjalan menyusuri labirin hingga membuatku terlena karena terpesona.Secuil alasanlah yang mempertemukan kita dalam suatu ruangan. Sedikit perkenalan dan kemudian kau jajal pertanyaan penuh mengapa. Terutama tentang kekosongan masing-masing, mungkin.

Aku terhimpit dalam nostalgia yang abadi. Secangkir kopi buatan malam  menggambarkan kita,aku pahitnya dan kau manisnya.Meneguknya hingga puas,dan kau sisakan ampas; tak berbekas.

Aku selalu ingin bersahabat dengan masa lalu,duduk berdua membahas ketidakrelaan yang tidak nyata yang mungkin paling nyata yang pernah aku nyatakan.

Hampir setahun kita saling membisu dalam keramaian,mengumpul ragu untuk saling menjauhi,dan bertegur harap dalam kesendirian. Di kepalaku wajahmu telah terukir dan menjadi prasasti,merusaknya hanya akan menghancurkan mimpi.Walau sebatas angan namun itu satu-satunya cara merangkulmu dari kejauhan.Sebab memilikimu aku takkan bisa.

Menenggelamkan rasa

Perih terasah

Hingga terkapar menahan sesak merata


Padahal aku ingin menjamahmu seperti langit malam. Bertaburan bintang di atasnya,tetap kaulah satu-satunya. Kisah kita tinggallah bualan. Kebohongan paling nyata untuk dikisahkan. Aku benar-benar ingin bersahabat dengan kenangan,seperti bubuk kopi yang tak sadar telah menyatu dengan air. Aroma yang menenangkan degub jantung akan amarah yang menggelora.

Bahagialah seisi harimu,kelak aku akan mendatangimu mengetuk pintu yang tertutup. Satu hal yang aku takutkan,bahwa kelak kau tahu siapa yang paling mencintaimu. Sayatan terkeji akan merobekmu,luka terperih akan membawamu dalam tangisan dan menyadarkanmu dari kenyataan yang tak terelakkan.

Terima kasih atas hadirmu yang telah menyinari langit keemasan

Aku siap tertawa di atas penyesalan dari cinta yang telah mati.


Author

Foto saya
Tangerang Selatan, Indonesia

Copyright © Perjalanan Rasa | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com