Kau hidup di jaman kau harus serba mencari. Mencari
jati diri, mencari hal yang bisa membahagiakan hati, mencari kesedihan, mencari
amanah, mencari banyak hal. Bahkan, aroma hujan yang tengah rintik pun kau
cari-cari. Ya, pethricor itu selalu
mengagumkan. Itulah kenapa indera penciumku selalu memuja.
Tuhan menjajikan kita
kebahagiaan, dan dunia
adalah tempatnya.Lebih tepatnya hatimu. Ya
semacam
kebahagian bersumber dari sana. Itulah
mengapa tuhan memberi kita tugas untuk
mencari. Mencoba menyusuri sendiri. Di setiap
sudut dunia ada bahagia milik kita. Hak
kita, untuk kita. Entah
dia
hidup atau mati, yang jelas hatimu harus siap menerima
karena membahagiakan
atau tidaknya hal itu bagimu, ialah hatimu yang mampu
merasakan.
Mari
kita ambil yang hidup sebagai ulasan. Jika kau mencari kesempurnaan tunggal, alam semesta
tidak akan menyajikan. Kesempurnaan adalah esa, milik tuhan. Tak
perlu membahas hal klise seperti ini, karena kau pasti tahu. Bahwa jika kesempurnaan diletakkan
pada manusia dan organ-organnya, tuhan dengan tega
mereka singkirkan. Karenanya, carilah….
Ia yang mampu memancarkanmu baik
di segala
kondisi. Dari segala sudut pandang. Carilah pancar
ronamu pada ia yang mampu
melihatmu dari sisi terendah. Carilah. Carilah ia yang
hidup tanpa meminta yang
tiada.
Carilah…
Ia yang mampu menghargai setiap
sudut
senyummu, bahkan sedihmu sekalipun. Carilah ia yang
bahkan bisa menerjemahkan
gulitamu. Mungkin, aral tak bisa ia binasakan. Namun,
ia selalu mempercayai
genggamanmu sebagai kekuatannya melawan. Hingga ia
mati, tak berdaya
diterbangkan debu.
Maka, carilah…
Ia yang bukan berjanji tidak akan
menyakitimu, namun temukan ia yang berani menjadi obat
ketika melukaimu tanpa
sadar ia lakukan. Kau dan dia sama-sama manusia. Tak
akan pernah luput dari
alpa, termasuk tentang bagaimana menorehkan luka.
Carilah…
Ia yang tak akan membiarkanmu
disentuh
tetesan air mata, bahkan tetesan hujan pun tak akan ia
biarkan menyentuh ujung
rambutmu walaupun kau sangat menyukainya. Temukan ia
sebagai pelindung hatimu.
Carilah…
Ia yang bisa menerjemahkan
amarahmu. Sekalut,
serumit, dan separah apapun amarah memuncak di
ubun-ubunmu, temukan ia yang
bisa meredakan dengan nilai sempurna. Karena kau tak
akan pernah tau, sefatal
apa lakumu ketika ubunmu dipenuhi api yang menggebu.
Carilah…
Ia yang tak hanya menebar bualan
tinggi di
depanmu. Namun, juga memberikan jaminan pada ayahmu
sebagaimana ia mampu
berjanji dihadapan Tuhan. Temukan ia yang tak hanya
mampu memintamu dihadapan
kedua orang tuamu, namun juga dihadapan yang satu.
Carilah..
Temukan ia yang selalu
menceritakanmu pada
dunia. Ia yang tak pernah kehabisan cara untuk
memperkenalkanmu pada sebutir
debu sekalipun. Membanggakanmu pada langit, hingga
menceritakan namamu pada
bintang dan membuatnya merasa iri saat ia katakan
bahwa kau adalah penyinar
hidupnya—bahwa ia tak pernah salah memilihmu sebagai
teman hidup yang
membantunya menggapai impian yang ia gantungkan
setinggi awan.
Carilah……
temukan……
Ia yang bukan hanya berjanji untuk
memenuhi
inginmu, namun ia yang selalu memintamu merapal kedua
telapak agar Tuhan
memampukan rezekinya untuk bisa selalu membahagiakanmu
dengan jerihnya. Payahnya,
peluhnya. Agar kau tau apa arti Tuhan, apa arti
memohon dan berharganya arti
sebuah pengabulan..
Carilah……
esok
hari……
dan ia yang
kucari,
sudah kutemukan..

