Inilah sebuah perjalanan, nikmatilah semuanya. Jatuhlah dan sambutlah semua rasa

Sabtu, 31 Juli 2021

Apologia Untuk Sebuah Nama


Kau hidup di jaman kau harus serba mencari. Mencari jati diri, mencari hal yang bisa membahagiakan hati, mencari kesedihan, mencari amanah, mencari banyak hal. Bahkan, aroma hujan yang tengah rintik pun kau cari-cari. Ya, pethricor itu selalu mengagumkan. Itulah kenapa indera penciumku selalu memuja.

Tuhan menjajikan kita kebahagiaan, dan dunia

adalah tempatnya.Lebih tepatnya hatimu. Ya semacam

kebahagian bersumber dari sana. Itulah mengapa tuhan memberi kita tugas untuk

mencari. Mencoba menyusuri sendiri. Di setiap

sudut dunia ada bahagia milik kita. Hak kita, untuk kita. Entah dia

hidup atau mati, yang jelas hatimu harus siap menerima karena membahagiakan

atau tidaknya hal itu bagimu, ialah hatimu yang mampu merasakan.

 

Mari kita ambil yang hidup sebagai ulasan. Jika kau mencari kesempurnaan tunggal, alam semesta tidak akan menyajikan. Kesempurnaan adalah esa, milik tuhan. Tak perlu membahas hal klise seperti ini, karena kau pasti tahu. Bahwa jika kesempurnaan diletakkan pada manusia dan organ-organnya, tuhan dengan tega

mereka singkirkan. Karenanya, carilah….

 

Ia yang mampu memancarkanmu baik di segala

kondisi. Dari segala sudut pandang. Carilah pancar ronamu pada ia yang mampu

melihatmu dari sisi terendah. Carilah. Carilah ia yang hidup tanpa meminta yang

tiada.

 

 

Carilah…

 

Ia yang mampu menghargai setiap sudut

senyummu, bahkan sedihmu sekalipun. Carilah ia yang bahkan bisa menerjemahkan

gulitamu. Mungkin, aral tak bisa ia binasakan. Namun, ia selalu mempercayai

genggamanmu sebagai kekuatannya melawan. Hingga ia mati, tak berdaya

diterbangkan debu.

 

Maka, carilah…

 

Ia yang bukan berjanji tidak akan

menyakitimu, namun temukan ia yang berani menjadi obat ketika melukaimu tanpa

sadar ia lakukan. Kau dan dia sama-sama manusia. Tak akan pernah luput dari

alpa, termasuk tentang bagaimana menorehkan luka.

 

Carilah…

 

Ia yang tak akan membiarkanmu disentuh

tetesan air mata, bahkan tetesan hujan pun tak akan ia biarkan menyentuh ujung

rambutmu walaupun kau sangat menyukainya. Temukan ia sebagai pelindung hatimu.

 

Carilah…

 

Ia yang bisa menerjemahkan amarahmu. Sekalut,

serumit, dan separah apapun amarah memuncak di ubun-ubunmu, temukan ia yang

bisa meredakan dengan nilai sempurna. Karena kau tak akan pernah tau, sefatal

apa lakumu ketika ubunmu dipenuhi api yang menggebu.

 

Carilah…

 

Ia yang tak hanya menebar bualan tinggi di

depanmu. Namun, juga memberikan jaminan pada ayahmu sebagaimana ia mampu

berjanji dihadapan Tuhan. Temukan ia yang tak hanya mampu memintamu dihadapan

kedua orang tuamu, namun juga dihadapan yang satu.

 

Carilah..

 

Temukan ia yang selalu menceritakanmu pada

dunia. Ia yang tak pernah kehabisan cara untuk memperkenalkanmu pada sebutir

debu sekalipun. Membanggakanmu pada langit, hingga menceritakan namamu pada

bintang dan membuatnya merasa iri saat ia katakan bahwa kau adalah penyinar

hidupnya—bahwa ia tak pernah salah memilihmu sebagai teman hidup yang

membantunya menggapai impian yang ia gantungkan setinggi awan.

 

Carilah……

temukan……

 

Ia yang bukan hanya berjanji untuk memenuhi

inginmu, namun ia yang selalu memintamu merapal kedua telapak agar Tuhan

memampukan rezekinya untuk bisa selalu membahagiakanmu dengan jerihnya. Payahnya,

peluhnya. Agar kau tau apa arti Tuhan, apa arti memohon dan berharganya arti

sebuah pengabulan..

 

Carilah……

esok hari……

dan ia yang kucari,

sudah kutemukan..


 



 


Author

Foto saya
Tangerang Selatan, Indonesia

Copyright © Perjalanan Rasa | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com