Aku tak mengenalmu persis, Ya aku tak mengenalmu. Tetapi pada satu linimasa waktu telah mempertemukan kita dan kita berpandangan disana. Jujur saja ada perasaan dahsyat yang entah apa namanya. Saling menabrak-nabrak dihati dan pikiranku.
Sejujurnya aku tak pernah sebahagia ini memandangi
seseorang, tak pernah sebetah ini. Aku ingin teriak tapi kau didepanku, aku
ingin bilang tapi aku malu. Kau melihatku ketika itu, menenggelamkanku dalam
matamu. Tak pernah aku merasa seperti ini.
Aku masih mengingat semuanya; mulutmu bicara, matamu bicara.
Aku hanyut dalam semuanya, tenggelam dalam kata-katamu. Tentu saja.
Segala yang ada pada dirimu, bagiku, mengalir menikam
hatiku, begitu saja. Begitu lembut, begitu lurus.
Sebuah pertemuan memang tak pernah direncanakan sebelumnya.
Setelah itu aku selalu merapalkan doa-doa agar jalur waktu mempertemukan kita
lagi. Aku ingin, lagi, melihat melihat mulutmu yang begitu indah mengalirkan
kata. Aku ingin, lagi, melihat mata seorang perempuan bicara, Aku ingin, lagi,
melihat tubuhmu bicara.
Aku ingin, lagi, lagi. Lagi
Jujur saja aku telah tenggelam dalam kata-katamu, tersesat
dalam matamu
Kemana lagi harus kulacak jalan pulang ketika jiwa telah terpacak
dimatamu?
Aku tak pernah tau. Aku tak pernah yakin
*
Kemudian kuputuskan merancang sebuah ruang tersendiri di
hati. Ruang yang kukhususkan untuk pertemuan-pertemuan bersamamu, dan imaji
yang kurangkai sendiri.
Aku bisa begitu lama disana, Menguncinya rapat-rapat agar tak ada seorang bisa masuk dan mengganggu pertemuan kita yang khusyuk. Aku hanya ingin mengulang klise itu, mengenang kata-kata dan matamu. Ah andai saja bisa kuakali waktu.

