Inilah sebuah perjalanan, nikmatilah semuanya. Jatuhlah dan sambutlah semua rasa

Senin, 03 Agustus 2015

Titrasi Disosiasi




Juli tahun lalu,aku teringat pertemuan suatu perempuan. Bintang yang berkilau yang menggantung di langit biru. Dengan pita merah jambu yang senantiasa menemani kepalanya,Dia berjalan menyusuri labirin hingga membuatku terlena karena terpesona.Secuil alasanlah yang mempertemukan kita dalam suatu ruangan. Sedikit perkenalan dan kemudian kau jajal pertanyaan penuh mengapa. Terutama tentang kekosongan masing-masing, mungkin.

Aku terhimpit dalam nostalgia yang abadi. Secangkir kopi buatan malam  menggambarkan kita,aku pahitnya dan kau manisnya.Meneguknya hingga puas,dan kau sisakan ampas; tak berbekas.

Aku selalu ingin bersahabat dengan masa lalu,duduk berdua membahas ketidakrelaan yang tidak nyata yang mungkin paling nyata yang pernah aku nyatakan.

Hampir setahun kita saling membisu dalam keramaian,mengumpul ragu untuk saling menjauhi,dan bertegur harap dalam kesendirian. Di kepalaku wajahmu telah terukir dan menjadi prasasti,merusaknya hanya akan menghancurkan mimpi.Walau sebatas angan namun itu satu-satunya cara merangkulmu dari kejauhan.Sebab memilikimu aku takkan bisa.

Menenggelamkan rasa

Perih terasah

Hingga terkapar menahan sesak merata


Padahal aku ingin menjamahmu seperti langit malam. Bertaburan bintang di atasnya,tetap kaulah satu-satunya. Kisah kita tinggallah bualan. Kebohongan paling nyata untuk dikisahkan. Aku benar-benar ingin bersahabat dengan kenangan,seperti bubuk kopi yang tak sadar telah menyatu dengan air. Aroma yang menenangkan degub jantung akan amarah yang menggelora.

Bahagialah seisi harimu,kelak aku akan mendatangimu mengetuk pintu yang tertutup. Satu hal yang aku takutkan,bahwa kelak kau tahu siapa yang paling mencintaimu. Sayatan terkeji akan merobekmu,luka terperih akan membawamu dalam tangisan dan menyadarkanmu dari kenyataan yang tak terelakkan.

Terima kasih atas hadirmu yang telah menyinari langit keemasan

Aku siap tertawa di atas penyesalan dari cinta yang telah mati.


24 komentar:

  1. suka puisi tapi gk bisa baca nya gan... but nice

    BalasHapus
    Balasan
    1. gk bisa baca ? lihat saja kedua bola mataku,disana kau akan melihat keindahan puisi tanpa perlu membacanya..

      Hapus
  2. Berikutnya bikin puisi judulnya move on sob biar pas hehe..


    Apa, ga bisa move on?? Tapi cewe cantik banyak sob yg baik jg banyak..


    Apa, maunya sama cewe kayak si mantan itu?? Waduh sob ga usah cari yg sama emang mau nanti kejadiannya sama juga..


    Hehe...

    BalasHapus
  3. Suka puisi~ apalagi yg nyentuh. Bdw, itu terinspirasi daeri mana bro ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terinspirasi dari kepergiannya yang menyisakan luka di dada kiriku :)

      Hapus
  4. ah, ini curhat ya
    apa ini termasuk gagal move on atau memang hanya ingin mengenang masa lalu sambil berharap si dia sadar

    saya suka puisinya, eh ini puisi kan?
    penggunaan kata untuk majasnya pas jadinya nggak terlalu berlebihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini isi hati bro...cuma mau mengenang bro,kalo berharap kayaknya bisa ya bisa tidak..au ah gelap

      Hapus
  5. "seperti kopi yang tak sadar menyatu dengan air", dalam juga filosofinya..
    juli tahun lalu, menyimpan perasaan kepada seorang wanita. tapi pada akhirnya, cuma bisa galau..
    apakah ini hanya fiktif belaka? atau merupakan relaita? hanya penulis blog yang tahu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa itulah cinta,dengan sejuta karunianya dan beribu pedihnya...
      haha..kayaknya ini realita mas

      Hapus
  6. kalo boleh tau titrasi disosiasi itu apa bro?

    suka sama diksinya meskipun ada beberapa kata yang ambigu dan susah diterjemahinnya, hehehe tapi setiap tulisan yang mengandung sastra i like it..

    BalasHapus
  7. Kok gue ngerasa ini terlau Wira banget ya? Mulai dari judul blog, kata demi kata, hyperlink warna kuning di setiap kata yang nampol.

    Ya, terlepas dari itu semua, gue suka sama kata-katanya.

    Saran aja sih, harus punya karakter yang bener-bener "gue banget". Mungkin bukan cuma gue aja yang ngerasa blog ini kayak blognya Wira.

    Tetep nulis dan semangat bro!

    BalasHapus
    Balasan
    1. ane terima sarannya bro,ane juga ngerasa post ini terlalu Wira...ini juga lagi nyari jati diri bro haha

      Hapus
  8. Titrasi disosiasi? Baru tau kalimat ini, terus artinya apa ya?

    Pilihan katanya menurutku bagus tapi gimana ya, puitis banget gitu. Aku aja gak bisa bikin karya kayak gini.

    BalasHapus
  9. waduh gagak move on nih ceritanya haha

    Btw gue gitu paham tulisan puitis sih hehe soalnya gue orangnya to the point kalo ngomong

    BalasHapus
  10. Wow, sangat puitis...

    Dari judulnya "Titrasi" saya kira ada hubungannya dengan kimia, ternyata itu puisi, puisinya bagus...

    BalasHapus
  11. Ah... kok mirip dengan yang aku alami :'(
    keren ini ceritanya, ini cerita kan ya? sangat menyentuh sekali...
    btw, tp hidup ini kan harus tetap kita jalani... walaupun tidak sesuai dengan keinginan kita...
    toh pastinya yg diatas akan memberikan yg terbaik untuk kita... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan bnget bro bisa sama..jangan-jangan itu ceritanya tentang kita berdua bro haha

      Hapus
  12. Nyentuh banget kata-katanya, dan bagus lah pokoknya
    Tapi kok isinya kegalauan banget ya :D Ini sekedar mengenang apa gagal move on kak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa seperti itulah antara mengenang dan gagal move on

      Hapus
  13. Aduh mas, nyentuh banget kata-katanya, mau dong mas disentuh pake kata-kata juga. *apaan

    Dan ketika kau tau siapa yang paling mencintaimu, datanglah kembali kepadaku, karena tentu saja, orang itu adalah aku :')

    BalasHapus
  14. Bukan mau jatohin semangat lu ya, tapi biasanya wanita yg tidak membalas cinta kita itu nantinya tidak akan menyesali hal itu sedikit pun...mengapa? Karena wanita jalan pikirannya berbeda sama pria. Beda halnya kalo lu pernah jadian ma dia dan dia pernah mencintai lu...tapi kalo cuma cinta sepihak doank sih, gua saranin mending lu move on aja. Hari di mana dia menyesali apa yg tidak pernah ia rasakan itu tidak akan pernah datang...

    BalasHapus

Author

Foto saya
Tangerang Selatan, Indonesia

Copyright © Perjalanan Rasa | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com