Sore yang ranum,matahari dengan sisa sisa cahanya hari itu
serta pikiranku yang semakin penuh tentangmu. Atas nama hati yang telah kau
curi sejak pertama kali senyummu melintas, namamu terus saja berlarian kesana
kemari di ruang penasaranku. Entah kenapa begitu hebatnya kau menghadiahkan
mendung kepada hujan dan kau beri pelangi setelahnya lalu menghilang,berbekas.
Kurasa kita bertemu lagi di alun-alun kota sore itu. Selalu
saja kuhitung setiap langkahmu kehadapku. Langkah pertama kau begitu cantik
walau tanpa gelang,cincin dan anting-anting. Langkah kedua kau masih saja
cantik meski kau tak tahu itu. Dan langkah –langkah selanjutnya masih tetap
begitu,ah..kau selalu saja seperti itu. Semakin dekat dan semakin aku merasa
ada tremor dakam batinku. Sampai kau tiba dihadapanku
“Hey..” katamu sembari menyebut namaku.
Terasa seperti ditampar halus,kemudian kau lepaskan senyummu
dan aku terjebak di alam nyatamu. Ya..senyum yang sama saat pertama kali
kulihat pagi hari itu,yang selalu ku lamunkan dan selalu ingin ku jaga tetap
merekah.
Seperti pertemuan yang lalu-lalu,masih tetap saja
kaku kutanya kabarmu,kuliahmu sampai judul drakor yang baru saja kau
tonton. Masih saja kau jawab dengan singkat dengan nada bicaramu yang khas
serta lesung pipit di wajahmu. Itu saja kemudian membisu diantara percakapan
orang lain atau mungkin kau berkata padaku tapi nalarku saja yang belum mampu
menangkapnya. Entahlah..
Kemudian kau beranjak dari kursi dan pulang dengan mengucap
kata sampai ketemu lagi. Aku terdiam mematung mendengarnya dan seketika aku
merasa dibangunkan dari lamunan indahku tentangmu.
Hari-hari selanjutnya kuhabiskan di alun-alun kota itu
sembari menyeruput kopi yang kembali terasa pahit tanpa senyummu setelah temu
sore itu. Kutatap terus meja yang kemarin kau duduki,berharap aku bisa melihat
aku dan kau duduk berdua berhadapan,aku meminum kopiku dan kau menuangkan
senyumanmu dihadapanku. Jika saja itu benar adanya mungkin gula tidak perlu ada
lagi di dunia ini.
![]() |
| Kopiku terasa pahit tanpa senyummu sejak pertemuan sore itu |
Kurasa kita bertemu
lagi di alun-alun kota sore itu..
*fad*



wah salah banget aku baca beginian pagi-pagi haha galau gila :(
BalasHapusCewe mah kalo cakep ga pake aksesoris juga pasti cakep ya.
beruntung lo kalo punya ciwi kaya gitu, malah ada lesung pipinya top lah sempurna hidupmu.
moga tuh cewe balik lagi deh ke alun alun menemani kesunyianmu bro muehe :)
Semoga bisa bertemu lagi di alun2, Mas, bahkan bisa ke jenjang serius, biar nantinya disaat seduh teh atau kopi gak usah pake gula, karena cukup pake senyuman aja :)
BalasHapusCewek cantik mah bebas, mau ngapain juga teteup cantik euy. Dan akhirnya berkaca pada diri sendiri, apalah daku yang hanya seujung upilnya tatjana saphira.
BalasHapusKalau hanya dengan kerupawanan seseorang yang kamu sukai, maka kopi tidak perlu gula, kasihan nanti perusahaan gula pada bangkrut, soalnya hanya dengan cinta semua terasa manis
Hm... pas liat gambar di akhir tulisan jadi pengen ngopi. Ah, kalau jadi kau, tak penting bagiku atau dia atau tidak. Apapun keadaannya, tak pernah ketika bersantai menyesap kopi aku tuangkan gula, bagiku tiap uap air dari campuran kopi dan air sudah cukup memahitkan hidup pahitku ini. Tapi... itu aku,
BalasHapusIndah, manis, dan pas. keren! :D
BalasHapusudah itu aja komennya. gue menikmati banget mbaca tulisan ini. :D
baca ini gue langsung keinget gebetan yang dateng dan pergi suka suka dia :(
BalasHapus